---
Di tengah hiruk-pikuk kota, sebuah kisah perjuangan sunyi datang dari seorang remaja asal Palupuh bernama Sukran. Di usianya yang baru menginjak kelas 11 di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Tarusan, Sukran telah memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding remaja seusianya.
Di tengah hiruk-pikuk kota, sebuah kisah perjuangan sunyi datang dari seorang remaja asal Palupuh bernama Sukran. Di usianya yang baru menginjak kelas 11 di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Tarusan, Sukran telah memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding remaja seusianya.
Selama tiga tahun terakhir, ia mendedikasikan dirinya sebagai garim (penjaga dan pengurus) di Masjid Taqwa Halalang. Menjaga rumah Allah menjadi pilihan hidupnya, setelah sebelumnya ia harus bertahan dengan menumpang tinggal di rumah warga sekitar. Statusnya sebagai anak yatim menuntut Sukran untuk mandiri lebih cepat.
* Tekad Memelihara Kambing yang Kandas oleh Waktu
Sebagai garim, Sukran tidak hanya memastikan masjid tetap bersih dan nyaman bagi jamaah, tetapi ia juga harus membagi fokusnya dengan pelajaran di madrasah. Namun, beban hidup yang kian menghimpit sempat membuat Sukran mencari jalan keluar lain untuk bertahan hidup.
Ia sempat berencana untuk menggembala kambing selepas pulang sekolah. Hasil dari beternak itu rencananya akan digunakan untuk menyambung hidup dan melunasi tunggakan uang sekolah di MTI Tarusan yang kini telah menumpuk selama empat bulan.
Sayangnya, realita di lapangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Padatnya aktivitas belajar di pesantren ditambah tanggung jawab harian menjaga masjid, membuat Sukran kehabisan waktu. Ia tidak lagi memiliki celah waktu untuk sekadar mencarikan rumput bagi ternaknya. Rencana itu pun terpaksa diurungkan.
#Solusi Terbaik dan Kebijaksanaan Donatur
Melihat kondisi pelik yang dihadapi Sukran, pihak lembaga filantropi segera bergerak melakukan asesmen dan membuka ruang diskusi bersama pihak donatur. Mengingat pentingnya fokus belajar bagi seorang santri kelas 10, sebuah keputusan bijak akhirnya disepakati.
Berdasarkan hasil diskusi tersebut, bantuan dana dari donatur tidak dialihkan untuk modal usaha ternak yang menyita waktu, melainkan langsung difokuskan untuk menyelesaikan akar masalah utamanya. Seluruh dana bantuan dialokasikan khusus untuk:
1. Pelunasan tunggakan uang sekolah selama 4 bulan.
2. Uang saku harian.
3. Pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari Sukran.
Langkah ini diambil agar Sukran tidak lagi terbebani oleh pikiran mencari nafkah yang berat di luar kapasitasnya sebagai pelajar. Dengan terpenuhinya kebutuhan ini, Sukran kini bisa kembali fokus menuntut ilmu di MTI Tarusan sembari menunaikan amanah mulianya sebagai garim di Masjid Taqwa Halalang dengan tenang.
Kisah Sukran adalah potret nyata bahwa di sekitar kita, masih banyak "tunas bangsa" yang berjuang keras menjaga martabat dan pendidikannya di tengah keterbatasan. Uluran tangan para donatur bukan sekadar bantuan finansial, melainkan jembatan yang menyelamatkan masa depan seorang anak yatim.
